Toraja Culture

Adu Kerbau Toraja

Mei 16, 2024 | by torajaculture.com

Adu Kerbau Toraja

Pendahuluan: Adu Kerbau Toraja

Torajaculture.com – Pada artikel kali ini Mimin akan membahas tentang Adu Kerbau Toraja. Salah satu suku yang tinggal di Sulawesi Selatan, Indonesia, adalah suku Toraja. Orang- orang di seluruh dunia mengenal mereka karena kekayaan budayanya, terutama cara mereka menangani kematian. Sebuah tradisi yang di sebut Tedong Silaga terkait dengan cara suku Toraja secara tradisional menguburkan orang mati.

Dalam masyarakat Toraja, kerbau merupakan hewan suci yang di anggap dapat membantu arwah orang yang sudah meninggal untuk menuju dunia berikutnya.​​​

Adat Adu Kerbau Toraja

Acara Tedong Silaga memiliki beberapa tahapan dan perlu di rencanakan secara matang. Ketika seseorang yang dekat dengan mereka meninggal, keluarga dan teman mereka merencanakan pemakamannya dengan cermat. Seekor kerbau di sembelih pada awal upacara, yang merupakan bagian penting dari upacara tersebut.

​​ Keluarga melakukan banyak pekerjaan untuk mempersiapkan acara tersebut.​​​​ Sebagai pemberian arwah orang mati, mereka memilih kerbau yang sehat dan kuat. Ada orang dalam proses pemilihan yang pandai menilai kerbau berdasarkan kesehatan dan perilakunya.​​​​​​

Masyarakat Toraja memandang banteng sebagai tanda kekuatan, kekayaan, dan kesuburan. Mereka beranggapan dengan menyembelih kerbau maka arwah orang yang sudah meninggal akan berbahagia dan sukses di kehidupan selanjutnya. Makna ini menunjukkan betapa kuatnya keyakinan mereka terhadap kehidupan setelah kematian.

Tedong Silaga

Adu kerbau merupakan bagian menarik dari adat Tedong Silaga. Pada titik ini, dua ekor sapi jantan yang di pilih dengan cermat akan berhadapan satu sama lain dalam pertarungan dramatis. Banyak sekali masyarakat yang menyaksikan pertarungan ini, termasuk wisatawan yang ingin mempelajari budaya dan tradisi Toraja.​​

Masyarakat Toraja mempunyai sejarah panjang dengan adu kerbau. Catatan sejarah menyebutkan bahwa pertarungan ini pernah menjadi bagian dari pemakaman keluarga kerajaan. Namun, seiring berjalannya waktu kebiasaan ini berkembang menjadi acara publik yang banyak di saksikan oleh banyak orang.​​

Saat masyarakat mengadu kerbau, mereka harus mengikuti aturan yang ketat. Orang – orang yang melakukan perkelahian memastikan bahwa tindakan tersebut adil dan tidak terlalu menyakiti hewan. Oleh karna itu, Pertarungan hanya berlangsung sebentar dan langsung berakhir jika salah satu banteng terlihat terluka parah.​​​​​​

Kerbau di Tedong Silaga

Kerbau Di Tedong Silaga, pertarungan lebih dari sekedar pertunjukan. Keyakinan iman yang kuat merupakan inti dari semuanya. Masyarakat Toraja beranggapan bahwa kerbau aduan memudahkan arwah orang mati untuk menuju alam baka. Masyarakat melihat pertarungan ini sebagai tanda betapa keras dan tulusnya para arwah berusaha memulai hidup baru. Praktek Tedong Silaga mempunyai pengaruh yang besar terhadap budaya, perekonomian, dan masyarakat masyarakat Toraja. Kehadiran wisatawan yang tertarik dengan adat ini mendatangkan uang bagi daerah tempat terjadinya. Beberapa lapangan kerja baru di ciptakan seiring pertumbuhan industri pariwisata.​

Sebagian besar tugas Tedong Silaga adalah membantu suku Toraja menjaga jati diri spiritualnya.​​​ Melalui adat inilah generasi muda bisa terhubung dengan tradisi nenek moyangnya.​​​ Saat ini banyak sekali masyarakat yang mempermasalahkan Tedong Silaga, sama seperti adat istiadat lainnya.

Beberapa orang mengatakan bahwa praktik mengadu kerbau ini berdampak buruk bagi hewan.​ Mereka kesal dengan perlakuan kerbau selama pertarungan.​​​​ Beberapa generasi muda Toraja mulai mempertanyakan apakah praktik ini masih penting di dunia yang semakin modern dan terbuka terhadap budaya lain.​​​​​​​ Mereka bertanya-tanya apakah adu kerbau masih penting dan sesuai dengan nilai – nilai masa kini.

Dalam upacara kematian Toraja, Tedong Silaga merupakan adat yang mempunyai banyak makna budaya dan simbolik.​ Adat ini masih sangat penting bagi masyarakat Toraja, meskipun telah di uji dan di kritik.​​​ Perlu ada keseimbangan antara melindungi warisan tradisional dan menjaga kesejahteraan hewan.​​​​​​

Pertarungan antara ratusan juta kerbau Toraja​​​

Hari sudah sore kami berangkat menuju Desa Palangi di Kecamatan Sa’dan Balusu.​ Di Londa Toraja, kita sempat meninggalkan kisah Romeo dan Juliet. Biarkan cerita ini berlanjut selamanya dan menjadi tempat orang datang untuk melihat di Tana Toraja.​​ Hal ini tidak akan terjadi jika dahulu ada “ adek – adekan ”.​ “Itulah hidup,” kata Jenderal Tian Feng saat dia menjalani 1001 kisah cinta. “Rasa sakitnya tidak pernah berakhir.”

Daihatsu tersebut dikemudikan oleh Kak Cumi. Kami tersesat lalu berbelok ke jalan Poros Pangli – Malakiri. Ternyata kita sudah melewati Museum Ne ‘ Gandeng yang merupakan salah satu tempat wisata di Tana Toraja.​​​​

Banyak juga masyarakat sekitar yang berkendara di sepanjang jalan tersebut karena tidak mau ketinggalan menyaksikan adu kerbau ratusan juta tersebut.​​​​​​ Karena jalannya kecil, banyak masyarakat yang memilih memarkir sepeda motornya di pinggir lalu menyusuri persawahan yang melintasi jalan tersebut sehingga menimbulkan kemacetan.​​​​​​​ Salah satu peristiwa adat yang terjadi sebelum Rambu Solo adalah adu kerbau yang oleh masyarakat Tana Toraja disebut Ma ‘ Pasilaga Tedong.​ Di Tana Toraja, kerbau merupakan bagian yang sangat penting dari budaya dan cara hidup mereka. Masyarakat Toraja percaya bahwa kerbau ini merupakan jalan bagi arwah nenek moyang dan orang mati lainnya untuk menuju akhirat.​​​​ Perjalanan arwah atau orang yang sudah meninggal akan lebih baik jika jumlah kerbaunya lebih banyak dan lebih baik.

Kerbau yang diperebutkan bukan sembarang kerbau ;​​​​​ itu sebagai hadiah upacara Rambu Solo.​​ Kerbau bule jenis Tedong Bonga atau jenis albino.​​ Bentuknya seperti kerbau berwarna putih, namun terdapat bintik hitam di punggungnya.​ Namanya kerbau Saleko.​ 

Penutup: Adu Kerbau Toraja

RELATED POSTS

View all

view all