Toraja Culture

Asal Usul Suku Toraja

Mei 22, 2024 | by torajaculture.com

Asal Usul Suku Toraja

Pendahuluan: Asal Usul Suku Toraja

Torajaculture.com Dalam website Pemprov Sulsel disebutkan kelompok Toraja tinggal di pegunungan utara dan memiliki anggota sekitar satu juta.​​​​​​​​ Kabupaten Tana Toraja, Kabupaten Toraja Utara, dan Kabupaten Mamasa merupakan rumah bagi separuh penduduknya. Anggota kelompok Toraja sebagian beragama Islam, sebagian besar beragama Kristen, dan sebagian lagi masih menganut agama lama bernama Aluk To Dolo. Untuk mengenal lebih jauh tentang masyarakat Toraja, mari kita simak apa yang dilakukan Abd. tulis Rahman Rahim dalam bukunya tahun 2017 Mengenal Tana Toraja Lebih Dekat.

Terbentuknya Suku Toraja

Teluk Tonkin yang berada di antara Vietnam Utara dan Cina Selatan, merupakan tempat asal muasal suku Toraja. Pada awalnya, orang – orang yang berasal dari Teluk Tonkin ini tinggal di sepanjang pesisir pantai Sulawesi. Kemudian mereka pergi ke dataran tinggi, tempat suku Toraja masih tinggal. Masyarakat yang tinggal di Tana Toraja konon merupakan campuran masyarakat yang lahir dan besar di pegunungan Sulawesi Selatan dan masyarakat yang berasal dari Teluk Tongkin dan Yunnan di Tiongkok Selatan. Setelah berakar di dekat sumber sungai, di daerah Enrekang, mereka membangun sebuah kota.

Ada juga cerita yang sangat terkenal tentang bagaimana suku Toraja muncul.​​​ Orang nirwana konon merupakan nenek moyang suku Toraja. Masyarakat Toraja mengira nenek moyang mereka turun dari kahyangan melalui tangga yang biasa mereka gunakan untuk berbicara dengan Puang Matua ( Dewa ). Kata ” Toraja” berasal dari suatu tempat. Toraja adalah kata yang di gunakan oleh suku Bugis untuk menggambarkan masyarakat yang tinggal di dataran tinggi. Masyarakat Luwu menyebutnya dengan riajang yang berarti “ orang barat ”. Pendapat lain menyebutkan bahwa Toraja berasal dari dua kata: to yang berarti orang, dan maraya yang berarti agung atau mulia.

Bagaimana Suku Toraja Muncul Orang

Belanda awalnya tidak peduli dengan pegunungan Sulawesi Selatan ketika mereka pertama kali tiba di pulau itu pada tahun 1600-an. Sebab, aksesnya sulit dan tidak banyak lahan yang bisa di gunakan untuk bercocok tanam. Namun karena Belanda khawatir dengan cepatnya Islam berkembang di daerah tersebut, mereka akhirnya berpikir bahwa suku Toraja mungkin merupakan tempat yang baik untuk menyebarkan agama Kristen. Animisme masih penting bagi mereka saat itu. Setelah itu dibuat garis melalui daerah Sa’adan yang kemudian di kenal dengan nama Tana Toraja. Toraja baru bisa menjadi sebuah kabupaten pada tahun 1957. Sejak tahun 1990-an, suku Toraja sedang mengalami perubahan budaya. Dulunya mereka menganut kepercayaan animisme dan mengandalkan pertanian untuk mata pencaharian mereka, namun sekarang mereka sebagian besar beragama Kristen. Kini di ketahui masyarakat Tana Toraja bergantung pada wisatawan.​​​

Kebudayaan Suku Toraja​​

Seperti yang telah di katakan, sebagian masyarakat Toraja masih menganut agama Aluk To Dolo. Dalam buku Tongkonan Masterpieces of Traditional Toraja Architecture karya Weni Rahayu tahun 2017 di sebutkan bahwa Aluk Todolo merupakan suatu keyakinan atau aturan yang di wariskan secara turun temurun oleh Sang Pencipta yang di sebut dengan Puang Matua. Menurut kepercayaan ini, masyarakat harus menghormati, memuja, dan memuji Puang Matua dengan melakukan upacara, memberi makanan, dan memujanya. Masyarakat suku Toraja biasanya memberikan daging babi atau ayam sebagai hadiah kepada dewa atau dewa penjaga utusan Puang Matua. Suku Toraja juga mengadakan acara adat jenis lain yaitu Rambu Solo yaitu pemakaman dan Rambu Tuka yaitu upacara perbaikan rumah adat.​​​​​​​

Hal-hal yang membentuk Suku Toraja

Ciri-ciri suku Toraja dapat di lihat dari cara hidup mereka dan hal-hal yang mereka tinggalkan dalam budaya mereka yang masih terlihat hingga saat ini. Pandangan animisme dan dinamisme yang di anut masyarakat sebelum abad ke-20 adalah salah satunya. Lainnya adalah kepercayaan pada desa kecil mandiri yang di sebut Aluk Todolo. Kepercayaan Aluk Todolo masih di anut meskipun sebagian besar masyarakatnya sudah beragama Kristen. Masyarakat Toraja juga memiliki pakaian asli yang di kenakan para wanitanya. Ini di sebut pakaian Pokko. Sedangkan yang laki-laki akan mengenakan pakaian Seppa Tallung yang akan di kenakan bersama Kandure, Ganyang, dan Lipa’ serta barang-barang lainnya. Orang yang memakai baju Seppa Tallung juga biasanya menutupi rambutnya dengan sesuatu yang di sebut Passapu. Selain itu, masyarakat Toraja juga mempunyai rumah asli bernama Tongkonan yang bentuknya seperti panggung. Rumah tongkonan terbuat dari kayu dan bagian atasnya melengkung menyerupai perahu. Tanduk kerbau di gunakan​ untuk mendekorasi rumah.

Tradisi Suku Toraja​​

Suku Toraja dikenal memiliki banyak adat istiadat, beberapa di antaranya sangat unik dan terkenal karenanya.​​​ Ini adalah beberapa di antaranya.

Rambu Solo

Salah satu adat yang dianut masyarakat Toraja disebut Rambu Solo yang juga ditulis dengan nama Auk Rampe Matampu. Masyarakat Toraja memiliki upacara pemakaman tradisional yang disebut “Rambu Solo” yang di maksudkan untuk menghormati orang yang meninggal dan menyambut arwahnya ke kehidupan selanjutnya. Masyarakat Toraja percaya bahwa seseorang benar – benar meninggal jika semua syarat untuk parade upacara Rambu Solo terpenuhi. Jika proses ini tidak dilakukan, maka keluarga akan memperlakukannya seolah-olah dia sakit dan akan memberi makan, minum, dan menidurkannya. Selain pertunjukan seni, ritual dan doa juga digunakan untuk melaksanakan praktik ini. Babi atau kerbau disembelih dan jenazahnya kemudian dibawa ke tempat peristirahatan terakhir.​​​

Adat Jadul Adat Ma’nene

Merupakan cara membersihkan dan mengganti pakaian orang meninggal yang sudah berumur puluhan bahkan ratusan tahun. Bukan sekadar cara membersihkan dan mendandani jenazah sesepuh saat ritual Ma’nene. Para leluhur beranggapan bahwa ritual ini akan menunjukkan betapa pentingnya bagi anggota keluarga, bahkan yang sudah meninggal, untuk menjalin hubungan satu sama lain. Mereka juga berpikir bahwa hal itu akan berdampak baik bagi kehidupan keluarga. Salah satu adat yang masih di pertahankan dan dipandang sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur adalah tradisi Ma’nene.​​

Adu Kaki Sisemba

Kita akan turun Bersyukur atas hasil panen adalah bagian besar dari permainan adu kaki Sisemba. Anak-anak dan orang dewasa dari segala usia dapat memainkan permainan ini di lapangan terbuka. Sisemba dapat di mainkan dengan tiga cara tradisional. Sisemba Simanuk (satu lawan satu ), Sisemba Siduanan (dua lawan dua), dan Sisemba Sikambanan (grup lawan grup). 

Penutup: Asal Usul Suku Toraja

Mempelajari asal-usul Suku Toraja bagaikan menyelami lautan budaya yang kaya dan penuh misteri. Dari legenda kuno hingga bukti arkeologi, perjalanan menelusuri jejak sejarah. Mereka membawa kita pada pemahaman yang lebih dalam tentang identitas, tradisi, dan nilai-nilai luhur yang mereka junjung tinggi.

RELATED POSTS

View all

view all