Toraja Culture

Rumah Adat di Toraja

Mei 27, 2024 | by torajaculture.com

Rumah Adat di Toraja

Pendahuluan: Rumah Adat di Toraja

Torajaculture.com Tahukah Grameds seperti apa Rumah Adat di Toraja ?​ Media sudah banyak membicarakan budaya Toraja sehingga sudah banyak masyarakat Indonesia yang mengetahuinya. Bahkan, keunikan budaya Toraja juga mampu mendatangkan masyarakat dari negara lain. Namun, bukan hanya peristiwa komunitas saja yang menarik. Rumah adatnya juga asyik untuk dibicarakan.

Saat Anda ke Tana Toraja Sulawesi Selatan , Anda pasti akan melihat rumah adat Tongkonan yang tampilannya berbeda dari yang lain. Kata “tongkon” berarti “duduk” atau “menempati”. Dari sinilah kata “ tengan ” berasal. Pada saat yang sama, ma’tongkon sedang duduk bersama yang lain. Tongkonan adalah rumah pemimpin adat sekaligus tempat berkumpulnya keluarga dan teman.

Rumah adat ini mempunyai bentuk yang sangat unik. Terdiri dari tumpukan kayu yang di lapisi ukiran tradisional Toraja berwarna kuning, hitam, dan merah. Orang Toraja sering berkumpul di rumah ini untuk berbincang.

Upacara harus di lakukan selama pembuatan rumah ini, dan semua anggota keluarga harus berpartisipasi .​​​ Pasalnya masyarakat Toraja memanfaatkan rumah Tongkonan ini tidak hanya sebagai rumah, namun juga sebagai tempat bersilaturahmi dengan orang yang lebih tua.

Masyarakat Toraja mempunyai cerita yang mengatakan bahwa rumah adat Tongkonan ini pertama kali di bangun di Kahyangan. Yang mana rumah pertama mempunyai empat tiang. Saat itulah nenek moyang suku Toraja turun ke bumi dan membangun sebuah rumah yang mirip seperti di kayangan. Setelah itu, terjadilah peristiwa besar.

Pada mulanya rumah Tongkonan hanya digunakan untuk pesta oleh kalangan elite Toraja. Namun seiring berjalannya waktu , rumah ini berubah menjadi rumah klasik yang ditinggali masyarakat Toraja.

Sejarah Bangunan Rumah Tongkonan

Tongkonan berbentuk seperti rumah panggung berbentuk persegi dengan bagian atasnya menyerupai punggung perahu. Namun ada pula yang menganggap atap rumah asli Toraja ini bentuknya seperti tanduk kerbau. Jika dirawat dengan baik, atap yang terbuat dari daun kelapa atau nipah ini mampu bertahan hingga lima puluh tahun.

Membangun rumah dengan dinding tebing dan atap daun merupakan langkah awal dalam proses pembuatan Tongkonan. Kemudian masyarakat mengetahui tentang masa tiang segitiga, yaitu masa sebelum empat tiang mulai muncul.

Pada masa penghalusan, masyarakat juga belajar bagaimana menggunakan ornamen yang dibuat menyerupai simbol yang menunjukkan kepada pemilik rumah betapa pentingnya seseorang bagi keluarga. Semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin banyak pula tanduk kerbau yang dipasang di rumah tongkonannya.

Bertahan Selama Ratusan Tahun

Bentuknya sangat mirip dengan kebanyakan rumah tradisional Indonesia. Banyak rumah penduduk asli Tongkonan yang terbuat dari kayu. Kayu yang digunakan adalah kayu uru yang terkenal sangat kuat.

Selain itu, rumah Tongkonan sendiri juga terdiri dari beberapa bagian, termasuk atap Tongkonan yang terbuat dari bambu. Rumah adat ini memiliki bentuk atap menarik seperti perahu. Masyarakat suku Toraja biasa berlayar mengarungi lautan untuk sampai ke Pulau Sulawesi yang di lambangkan dengan bentuk ini.

Sedangkan Rumah Tongkonan berdinding kayu. Dalam membangun rumahnya, masyarakat Toraja tidak menggunakan besi atau paku untuk menyambung bagian-bagian yang berbeda. Di sisi lain, rumah asli Toraja ini di kenal sangat kuat dan bertahan hingga ratusan tahun.

Sebab, hanya material tertentu saja yang di gunakan untuk membangun rumah tongkonan. Salah satu caranya adalah dengan menggunakan kayu besi atau kayu uru yang berumur 10 tahun. Proses penebangan juga di lakukan dengan cara yang mengikuti tradisi.

Menyatu Dengan Alang Sura

Dua bagian rumah Tongkonan ini adalah rumah ukiran yang di sebut banua sura dan rumah induk atau gudang ukiran. Orang menganggapnya sebagai tanda sepasang suami istri. Rumah Tongkonan terkadang memiliki lumbung yang tidak di buat seperti lemba dan rumah panggung yang besar.

Baik banua maupun alang berperan sebagai orang tua ketika orang tuanya tidak ada. Banua ini melambangkan seorang ibu yang menjaga anaknya. Sedangkan alang melambangkan ayah yang merupakan batu karang keluarga.

Baik banua maupun alang akan berada pada tempat yang sama, namun keduanya akan saling berhadapan. Masyarakat menyimpan beras yang masih bertangkai di alang. Kemudian, kayu palem di jadikan tiang alang agar tikus tidak bisa masuk ke dalam. Lalu, terdapat ukiran ayam dan matahari di bagian depan rumah. Ini adalah akhir dari kasus-kasus.

Daerah luas antara banua dan alang di sebut ulu ba’ba. Selain sebagai tempat bekerja dan menjemur padi, area ini juga di gunakan anak-anak untuk bermain. Selain itu, spot ini juga di gunakan sebagai ruangan yang menghubungkan dan menyatukan kompleks tersebut. Halaman ini juga sering di gunakan untuk upacara-upacara yang menandai berakhirnya kehidupan.

Arti Rumah Tongkonan Warna-warni

warni yang berbeda sering di gunakan untuk menghiasi rumah asli Tongkonan ini. Rumah klasik ini sebagian besar terdiri dari empat warna : hitam, kuning, putih, dan merah. Warna-warna ini tidak hanya di pilih untuk penampilan, tetapi masing-masing warna juga memiliki tujuan.

Masyarakat memandang warna putih sebagai tanda kebersihan karena merupakan warna tulang. Oleh karena itu, warna kuning melambangkan kekuatan dan kebaikan Tuhan. Selain itu, warna merah melambangkan darah yang berarti kehidupan. Sebaliknya, warna hitam melambangkan kematian dan kegelapan.

Bagaimana Rumah Tongkonan Menunjukkan Status Sosial Anda

Rumah tradisional Tongkonan lebih dari sekedar tempat tinggal. Mereka juga menunjukkan betapa kayanya pemiliknya di masyarakat. Bukan karena besar atau mewahnya rumahnya, tapi karena banyaknya kepala sapi di setiap rumah. Seringkali kepala banteng akan berada di kolom utama rumah ini.

Hal inilah yang menentukan status sosial pemilik rumah di masyarakat. Semakin banyak kepala kerbau yang di pamerkan, semakin penting keberadaannya di kawasan tersebut.

Ruangan pada Rumah Tongkonan

Perlu di ketahui bahwa rumah Tongkonan mempunyai tiga bagian, yaitu bagian selatan, bagian utara, dan bagian tengah. Ketiganya melakukan hal yang berbeda, seperti :​

Ruang Selatan

Nama ruangan ini adalah Sumbung. Kepala keluarga tinggal di ruang selatan yang merupakan tempat khusus. Dalam masyarakat Toraja, kepala keluarga adalah penanggung jawab rumah tangga yang sangat penting dan di hargai. Aturan yang harus di patuhi oleh setiap anggota keluarga ketika kepala keluarga bertanggung jawab atas tindakan.

Ruang Tengolak Utara

Tengolak Utara adalah nama daerah di sebelah utara. Bagian ini memiliki beberapa ruangan , antara lain ruang duduk, tempat tidur anak, dan tempat menaruh persembahan. Tengolak merupakan ruangan pertama yang di lihat orang yang datang ke Rumah Tongkonan .​​

Ruang Utama

Namanya menjelaskan semuanya : ruangan ini berada di tengah. Ruangan ini di kenal juga dengan nama Sali. Banyak hal yang bisa di lakukannya, namun tugas utamanya adalah menampung jenazah anggota keluarga yang telah meninggal.

Selain itu Sali ini juga menjadi tempat berkumpul dan makan bersama keluarga. Bagi masyarakat Toraja, keberadaan jenazah di ruangan ini bukanlah suatu hal yang menakutkan atau aneh.​​​​ Mereka melakukan ini karena mereka percaya bahwa orang yang masih hidup dapat memiliki hubungan dengan orang tuanya yang sudah meninggal.

Ada satu lagi bagian rumah adat Toraja yang bukan merupakan salah satu dari ketiga bagian tersebut. Namanya Alang Sura.​ Lumbung padi, seperti ruangan ini, biasanya di bangun jauh dari rumah induk. Bagi masyarakat Toraja, Alang Sura ibarat seorang ayah karena membawa uang bagi keluarga. Sebaliknya , rumah Tongkonan dipandang sebagai seorang ibu yang menjaga dan menghangatkan keluarganya.

Macam-Macam Rumah Tongkonan Masyarakat Toraja masih mengikuti seperangkat aturan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini menyebabkan model Tongkonan menjadi beragam . Berikut adalah beberapa jenis rumah Tongkonan di Tana Toraja.​​

Penutup: Rumah Adat di Toraja

RELATED POSTS

View all

view all