Toraja Culture

Kebudayaan Suku Toraja

Mei 20, 2024 | by torajaculture.com

Kebudayaan Suku Toraja

Pendahuluan: Kebudayaan Suku Toraja

Torajaculture.com – Pada artikel ini kita akan membahas tentang Kebudayaan Suku Toraja. Adat istiadat suku Toraja terkenal sangat berbeda dengan kebudayaan lainnya.​​ Karena itu, Toraja menjadi salah satu tempat wisata budaya paling terkenal di dunia.​​ Kabupaten Tana Toraja dan Toraja Utara merupakan rumah bagi suku Toraja di Sulawesi Selatan. Menarik untuk melihat bagaimana suku Toraja menjaga banyak adat istiadatnya tetap hidup.​​​

Masyarakat Toraja mempunyai adat istiadat bernama Rambu Solo, yaitu cara mereka mengucapkan selamat tinggal kepada orang yang disayangi. Namun suku Toraja juga mempunyai banyak adat istiadat lain yang tak kalah uniknya.​

Adapun Jenis Kebudayaan Suku Toraja Seperti:

Rambu Solo

Upacara kematian asli Toraja yaitu rambu solo. Bagi Eric Crystal Ranteallo dari Dewan Masyarakat Adat Nusantara, Rambu Solo merupakan upacara suci bagi masyarakat Toraja. Hal itu dilakukan oleh Aluk Todolo yang merupakan nenek moyang suku Toraja. Masyarakat mengira Rambu Solo adalah ritual untuk mengakhiri kematian seseorang.​

Masyarakat Toraja beranggapan bahwa kematian adalah proses peralihan dari wujud manusia nyata menjadi ruh di dunia luar dunia kasat mata. Dengan kata lain, memperlakukan jenazah seperti orang sakit selama rangkaian rutinitas Rambu Solo belum selesai. Karena harus menyembelih kerbau, prosedur Rambu Solo memakan banyak biaya. Itu sebabnya akan menyimpan jenazah hingga bisa menampung Rambu Solo jika biaya keluarga tidak mencukupi. Masyarakat Toraja melakukan serangkaian upacara kuno dalam rangka Rambu Solo. Terdapat Mappassulu’, Mangriu’ Batu, Ma’popengkaloa, Ma’pasonglo, Mantanu Tedong, dan Mapasilaga Tedong sebagai ritusnya. 

Rambu Tuka’ 

Rambu Tuka’ orang juga menyebutnya dengan nama Rampe Mata Allo merupakan perayaan kebahagiaan atau ucapan syukur masyarakat Toraja atas hal-hal seperti rumah baru, hasil panen yang baik, dan hal-hal baik lainnya. Berbeda dengan Rambu Solo’. Berdasarkan laman Direktorat Warisan Budaya dan Diplomasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud). Peristiwa Rambu Tuka diperkirakan sudah dimulai sejak lama, saat manusia pertama kali datang ke bumi. Pasalnya Rambu Tuka merupakan bagian penting dari agama masyarakat Toraja kuno yang biasa orang sebut dengan aluk todolo. Ritual Rambu Tuka berlangsung di sebelah timur rumah, orang-orang menyebutnya barung-barung atau tongkonan. Ini dilakukan pertama kali di pagi hari. Dalam adat istiadat masyarakat Toraja, Rambu Tuka bermacam-macam jenisnya.​ Dari yang paling tidak umum hingga yang paling umum, inilah berbagai jenis Rambu Tuka.

  • Kapuran Pangan yang menyajikan sirih pinang
  • Piong Salampa menyajikan lemang yang terbuat dari bambu.
  • Ma’pallin atau Malingka Biang adalah tindakan memberikan ayam sebagai pengakuan kesalahan.

Ma’Tadoran

​​​​Mereka akan menyembelih seekor babi yang disebut Ma’tadoran atau Menammu. Mereka juga akan mempersembahkan seekor babi sebagai makanan untuk seluruh keluarga. Ma’pakande Deata Diong Padang adalah ritual yang masyarakat mempersembahkan kurban kepada deata pada halaman rumahnya. Mengurbankan seekor babi agar anggota keluarga dapat memakannya sebagai lauk, dan sisanya memberikannya kepada masyarakat sebagai makanan. Massura’ Tallang merupakan upacara yang melakukannya setelah seluruh upacara adat di atas. Merok merupakan upacara persembahan terbaik untuk Puang Matua. Kerbau, babi, dan ayam dijadikan kurban.

Lettoan Ma

Ritual Maklettoan Bai di Mangrara Banua ​​Acara di Desa Lolai Kabupaten Toraja Utara. Orang-orang mengarak rumah tradisional tongkonan dengan seekor babi di dalamnya sebagai bagian dari ritual ini. Hal ini dimaksudkan sebagai cara untuk menunjukkan rasa terima kasih dan persaudaraan. Bersyukur kepada Sang Pencipta atas semua kebaikan yang telah terjadi adalah inti dari tradisi Ma’Lettoan.​​​​​ Seringkali ketika seseorang selesai membangun rumah baru.​

Selain itu, amalan ini juga membantu keluarga menjadi lebih dekat satu sama lain. Hal ini terlihat dari banyaknya keluarga yang mengikuti parade ritual Ma’Lettoa. Di garagan Lettoan yang artinya membuat kotak menyerupai Tongkonan merupakan langkah awal dalam tradisi Ma’lettoan. Berikutnya adalah babi bulle yang artinya dipimpin, lalu dirempun artinya dikumpulkan, dan terakhir ditunu artinya dibunuh.

Ma’nene

Ma’nene adalah cara membersihkan dan mendandani jenazah leluhur yang telah meninggal ratusan tahun. Melakukan upacara ini sekitar akhir bulan Agustus, setelah musim tanam. Mengeluarkan peti mati para leluhur dari kuburan batunya dan meletakkannya di tempat upacara. Ini adalah bagian dari ritual Ma’nene. Memersihkan j enazah setelah mengeluarkannya dari kubur.​​​​​

Mengganti pakaian lama yang jenazah nenek moyang pakai ke pakaian baru. Ritual ini biasanya melakukannya secara bersamaan oleh satu keluarga atau bahkan seluruh kota, sehingga berlangsung dalam jangka waktu yang lama.​​ Setelah ritual Ma’nene selesai, anggota keluarga berkumpul di rumah adat Tongkonan untuk berdoa bersama.​​​​

Masyarakat Toraja percaya bahwa upacara Ma’nene menunjukkan betapa mereka sangat menyayangi leluhur dan sepupu mereka yang telah meninggal. Dalam upacara ini, masyarakat Toraja berdoa agar arwah nenek moyang mereka senantiasa menjaga mereka dari segala macam hal buruk yang mungkin terjadi dalam hidup.​​​​

Akting Kapa’

Halaman Warisan Budaya Tak Benda Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI menyebutkan bahwa Rampanan Kapa merupakan upacara adat kelahiran suku Toraja. Menurut pelajaran aluk todolo atau nenek moyang suku Toraja, perkawinan adat jenis ini bersifat suci. Rampanan Kapa’ juga merupakan tempat ma’lolo tau (hubungan antar manusia) mulai terbentuk. Para aluk todolo percaya bahwa Puang Matua menikah dengan To Tabang Tua dengan Datuk La Ukku yang merupakan orang pertama yang menjadi manusia.

Lalu, pernikahan ini merupakan pernikahan pertama dalam sejarah suku Toraja. Puang Matua yang kemudian dikenal dengan nama Rampanan Kapa’ ada di sana saat pernikahan ini berlangsung. Dalam tradisi Rampanan Kapa, ​​terdapat upacara pernikahan adat yang di jalankan oleh pemuka adat, bukan pemuka gereja.​​ Ketika pemuka adat memperbolehkan perkawinan berdasarkan tana (mas kawin) seseorang, pemuka agama pun ikut serta.

Dalam ritual Rampanan Kapa tidak ada yang terbunuh. Daging babi dan ayam merupakan contoh hewan yang hanya orang berikan sebagai makanan jika boleh oleh hukum adat, apalagi jika menyangkut aturan pemberian daging atau manta kepada pemegang adat. Untuk menggunakan Rampanan Kapa sebaiknya melakukannya di antara rambu tuka pada pagi hari dan rambu solo pada sore hari. Aturan dalam Rampanan Kapa’ juga merupakan ada’na rampanan kapa ‘ yang artinya “hukum adat perkawinan”. Aturan-aturan ini telah berubah agar sesuai dengan iman Kristen yang sebagian besar masyarakat Toraja anut. 

Penutup: Kebudayaan Suku Toraja

Meninggalkan cara hidup Suku Toraja berarti memasuki dunia yang kaya akan tradisi, ritual, dan kepercayaan lokal yang asing bagi Anda. Dari rumah adat Tongkonan yang megah hingga upacara Rambu Solo yang sakral, toraja memiliki kekayaan dan keunikan yang tak tertinggi. Kebudayaan Suku Toraja adalah cerminan dari filosofi hidup yang erat dengan alam dan penghormatan terhadap leluhur. Jika mereka ingin mengelola sumber daya alam dan menjaga kelestarian lingkungan patut memperhatikannya.

RELATED POSTS

View all

view all