Toraja Culture

Ciri Khas Rumah Adat Tongkonan

Juni 10, 2024 | by torajaculture.com

Ciri Khas Rumah Adat Tongkonan

Pendahuluan: Ciri Khas Rumah Adat Tongkonan 

Torajaculture.com Pelajari tentang Rumah Adat Tongkonan, sejarahnya, keistimewaannya, ciri-cirinya, dan cara kerjanya. Ciri Khas Rumah Adat Tongkonan Rumah adat yang ada di Indonesia seperti halnya rumah adat Tongkonan semuanya sangat menarik dan berbeda satu sama lain.

Rumah adat tidak hanya menjadi bagian dari budaya lingkungan sekitar, tetapi juga merupakan tempat dimana seluruh keluarga tinggal bersama.​​​ Maka dari itu, penting untuk mengetahui apa saja yang membedakan rumah adat Tongkonan dengan rumah adat lainnya.

Perlu anda ketahui bahwa rumah khas Tongkonan berasal dari Toraja di Sulawesi Selatan. Kawasan ini mengikuti gagasan Aluk Todolo.

Rumah adat ini menunjukkan betapa pentingnya keluarga Toraja.​ Hal ini pula yang membuat pembangunan rumah adat ini tidak mungkin dilakukan tanpa adanya perencanaan terlebih dahulu.

Tongkonan tidak hanya sekedar simbol, tetapi juga merupakan tempat berkumpulnya masyarakat untuk melakukan ibadah keagamaan dan acara sosial.​​ Selain itu rumah adat ini juga digunakan untuk menyimpan padi setelah ditanam.​​​

Yang Menjadi Keistimewaan Rumah Adat Tongkonan Masyarakat

suku Toraja tidak lagi tinggal di rumah asli Tongkonan karena kini sudah mempunyai rumah sendiri.​​​​ Rumah adat tersebut kini banyak dimiliki oleh masyarakat Toraja dan digunakan sebagai pusat kebudayaan.​​​ Rumah kuno ini memiliki banyak keunikan yang masing – masing memiliki makna psikologis tersendiri.​

Inilah alasan lain mengapa Tongkonan menjadi tempat suci yang dijaga dengan sangat hati – hati oleh masyarakat. 

Perbedaan Tongkonan Dengan Rumah Adat Lainnya :

Banua Sang Borong

Yang pertama adalah Banua Sang Borong yang di kenal juga dengan nama Barung -barung. Sebagian rumah, bangunan ini hanya memiliki satu ruangan. Tidak ada dinding di antara ruangan-ruangan ini, jadi semuanya di gabungkan menjadi satu ruangan. Dalam kebanyakan kasus, bagian rumah ini adalah tempat berlangsungnya acara yang di hadiri banyak orang. Setiap kegiatan berlangsung dalam satu ruangan. Seringkali, bangunan ini di gunakan untuk pengunjung dari otoritas adat setempat.​​​

Pulau Lanta

Banua Duang Lanta adalah yang kedua. Biasanya rumah ini di gunakan sebagai rumah keluarga.​ Dalam kebanyakan kasus, bagian bangunan ini tidak melakukan hal-hal penting. Sali dan axisng adalah nama dua ruangan di dalamnya. Tingginya sekitar 30 sampai 40 cm kurang dari porosnya adalah bagian utara rumah yang disebut Sali. Ini lebih besar dan lebih panjang dari sebelumnya. Ada sebuah ruangan bernama Sali, tempat jenazah yang belum di kubur dimasak dan disimpan. Sedangkan porosnya merupakan tempat istirahat dan berada di selatan. Banua Duang Lanta di kenal juga dengan nama Banua Pa’rapuan. Seringkali, rumah tersebut hanya di huni oleh keluarga miskin atau masyarakat dari kelompok Tana ‘ Kua-kua dan Tana ‘ Karurung.

Sungai Talung Lanta

Yang ketiga adalah Banua Talung Lanta yang terbagi menjadi tiga bagian. Ada Tangdo yang berada di sebelah utara rumah dan di gunakan sebagai kamar tidur wanita lajang. Sali adalah kamar sebelah. Merupakan ruang tamu utama bagi keluarga yang tinggal di rumah adat Tongkonan. Biasanya, ruangan ini juga memiliki kompor di sudut timur. Di bagian dalam terdapat dapo berbentuk persegi panjang yang terbuat dari kotak kayu untuk memasak dan kompor karena di luar semakin dingin. Seringkali dapo di letakkan di sebelah timur rumah adat karena makanan merupakan bagian penting dalam upacara adat. Sali juga bisa di jadikan tempat tidur bagi para pria lajang. Bagian yang di sebut Sumbung juga ada di sana. Letaknya di sebelah selatan rumah adat.​​ Pada bagian ini, tuan rumah dan istrinya dapat beristirahat sejenak. Selain itu di sebut juga​​batutu dan di gunakan untuk menyimpan barang- barang penting.

Pohon Beringin Panjang

Di urutan keempat ada Banua Patang Lanta yang terbagi menjadi dua bagian : Lalang Tedong dan Salembe. Salah satu dari empat ruangan itu di sebut Inan Kabusungan, dan letaknya di selatan. Di gunakan untuk menyimpan alat -alat tradisional dan harta keluarga. Di sisi lain, terdapat Sumbung yang bisa di jadikan tempat tidur. Sali Tangnga dan bagian lainnya lebih panjang dari ruangan lainnya dan di gunakan oleh anggota keluarga untuk melakukan urusannya sendiri. Ruangan lainnya adalah Sali Iring, yang paling bawah dan di gunakan untuk menyambut orang yang masuk.​​

Seperti Apa Rupa Rumah Adat Tongkonan​

Rumah adat di Tongkonan ini tidak hanya unik saja, namun juga memiliki segudang keistimewaan yang menarik.​​​

Berikut Ciri-ciri Rumah Adat Tongkonan

Membuat Bentuk

Bentuk bangunan yang menyerupai pohon burung gereja adalah hal pertama yang menunjukkannya. Satu hal yang membuat rumah adat ini menonjol adalah di bangun dari pohon-pohon yang merintih di dahan-dahan besar. Bentuknya seperti sarang burung pipit karena atapnya juga terbuat dari rumput.​​

Membangun Atap

Kedua, bagian atas rumah adat Tongkonan berbentuk seperti perahu, dengan busur di kedua ujungnya. ​​ Selain itu, selalu menghadap utara.

Patung Kepala Kerbau

Ketiga, terdapat patung kepala kerbau di atas rumah. Kepala kerbau ada tiga macam, yaitu kerbau putih, kerbau hitam, dan kerbau beang.

Selain kepala kerbau, ada juga sejumlah patung lain yang di pasang. Banyak pemilik yang memasang gambar naga atau kepala ayam. Patung ini menunjukkan bahwa orang yang tinggal di rumah adat tersebut adalah orang yang sudah lanjut usia.

Memasang hiasan

Keempat, ada hiasan unik yang cocok di padukan dengan bangunan rumah adat Tongkonan. Seringkali, warna hitam dan merah di gunakan untuk menghias potongan-potongan ini. Bentuk geometris, pusaran, dan kepala kerbau dan ayam jago berwarna putih, merah, hitam, dan kuning terlihat pada dinding dan atap pelana. Masyarakat Toraja menganut agama yang di sebut Aluk To Dolo yang artinya “ Jalan Para Leluhur ”. Setiap warna yang di pilih mewakili bagian berbeda dari festival ini.

-Tuhan memberkati dan memberi kekuatan pada warna kuning. – Hitam adalah warna yang melambangkan kematian dan kegelapan.​

– Menjadi putih berarti bersih. Sebaliknya, warna merah melambangkan kehidupan.​

Warna Dasar

Kelima, ada empat warna dasar yang di gunakan dan masing-masing mempunyai nilai tersendiri. Salah satu dari empat warna tersebut adalah merah yang melambangkan kehidupan karena bentuknya seperti darah.

-Kuning adalah tanda pemberian dari Tuhan.​​

-Hitam adalah warna yang melambangkan kematian.

​-Putih adalah warna suci atau bersih.

Tanduk kerbau di depan rumah

Yang keenam, tanduk sapi di taruh di bawah atap. Banyaknya tanduk kerbau yang di masukkan menjadi pertanda sudah berapa banyak anggota keluarga yang tinggal di rumah tersebut yang di kuburkan di sana. Selain itu, tanduk banteng juga menunjukkan keluarga seperti apa yang tinggal di sana dan status sosialnya.​

Pekerjaan Bangunan

Bangunan rumah adat Tongkonan juga sangat menarik dan unik karena terbuat dari batang kayu. Bangunannya terbuat dari bambu bertumpuk yang di satukan tanpa paku.​​​ 

Penutup: Ciri Khas Rumah Adat Tongkonan

Rumah adat Tongkonan bukan sekadar tempat tinggal, tetapi simbol budaya dan filosofi masyarakat Toraja yang kaya. Keunikan arsitektur dan ornamennya mencerminkan nilai-nilai luhur dan kearifan lokal yang di wariskan turun-temurun.

RELATED POSTS

View all

view all