Toraja Culture

Filosofi Rumah Adat Tongkonan

Mei 6, 2024 | by torajaculture.com

Filosofi Rumah Adat Tongkonan

Pendahuluan: Filosofi Rumah Adat Tongkonan

Torajaculture.com – Pada artikel ini mimin akan memberi kalian pemahamaan filosofi rumah adat tongkonan. Menjulang tinggi di atas hamparan dataran tinggi Tana Toraja, Sulawesi Selatan, berdiri kokoh rumah adat Tongkonan, saksi bisu budaya dan tradisi masyarakat Toraja yang telah terjaga selama berabad-abad. Lebih dari sekadar tempat tinggal, Tongkonan menjelma menjadi simbol filosofi hidup, kearifan lokal, dan hubungan erat antara manusia, leluhur, dan alam semesta.

Toraja

Toraja adalah kata Bugis untuk berbagai kelompok masyarakat yang tinggal di bagian utara semenanjung selatan yang berbatu – batu. Kelompok – kelompok ini telah terpisah sejak pergantian abad. Kepercayaan asli mereka di dasarkan pada megalit dan roh, dan itu mencakup pemakaman umum, pesta besar untuk semua orang, dan pengorbanan hewan. Masyarakat Toraja baru mulai kehilangan kepercayaan terhadap agamanya pada tahun 1909, ketika para pengkhotbah Protestan datang membantu penjajah Belanda. Sekitar 70% penduduk Toraja saat ini beragama Kristen, dan 10% beragama Islam. 30 % lainnya masih menganut beberapa aspek dari keyakinan asli mereka.

Apapun agama yang mereka anut, banua besar Toraja, dengan atap pelana dan ujung atap yang melengkung ke atas, merupakan pusat kebudayaan setiap Toraja. Di sanalah nenek moyang mereka tinggal dan asal usul mereka. Rumah asal ini di sebut juga tongkonan, yang berasal dari kata Toraja yang berarti “duduk ”. Itu benar-benar berarti tempat berkumpulnya anggota keluarga untuk membicarakan hal – hal penting , mengikuti upacara , dan merencanakan cara memperbaiki rumah.​​​​

Mereka di bangun di atas tumpukan kayu. Atapnya berbentuk pelana, dan atap pelananya menjulang lebih curam dari pada atap Batak Toba. Pada gaya tradisional, atapnya terbuat dari bambu bertumpuk, dan rumahnya terbuat dari kayu yang di rakit tanpa paku dengan menggunakan sambungan lidah dan alur. Atap seng dan paku semakin banyak di gunakan saat ini. Salah satu hal terbaik tentang bepergian adalah Tongkonan.

Proses Pembangunan Rumah Adat Tongkonan

Proses pembangunan rumah adat memakan waktu lama, berat, dan membutuhkan tenaga ahli bangunan. Pertama, kayu – kayu tua di kumpulkan, kemudian di bangun gudang yang terbuat dari perancah bambu dan atap dari sirap bambu. Dalam hal ini, bagian – bagian rumah sudah di buat , tetapi pada langkah terakhir akan di satukan di lokasi. Tongkonan hampir selalu di bangun di atas tiang-tiang vertikal, bukan di atas dasar bergaya kabin kayu, sehingga semua tiang-tiang kayu tersebut di bentuk dan di beri lubang – lubang di dalamnya untuk balok pengikat horizontal. Di bagian paling atas, tiang pancang memiliki potongan yang memberi ruang bagi balok memanjang dan melintang struktur atas. Setelah itu, substruktur di pasang di titik akhir. Selanjutnya, balok melintang di pasang pada tiang pancang.​​

Balok memanjang kemudian di pasang pada balok bertakik , dan tiang tegak beralur yang akan membentuk rangka untuk bagian samping, dinding di paku pada tempatnya. Panel samping tipis di potong sesuai ukuran yang di pilih oleh pemahat kayu yang akan menghiasinya dan kemudian di masukkan ke dalam. Dua tiang luar dari setiap dinding melintang melewati balok dinding horizontal atas dan membawa balok horizontal paralel yang menahan kasau karena keduanya​​​​​​​ terbelah di bagian atas.

Setiap dinding melintang memiliki tiang kayu keras sempit yang bercabang dua di bagian atas dan di pasang pada balok lantai memanjang tengah. Tiang ini di pasang pada balok dinding atas dan menahan purlin punggungan. Kasau di letakkan di atas purlin punggungan , dan ujung panjang purlin bertumpu pada atap pelana segitiga yang menggantung di atas atap. Kemudian di pasang tiang bubungan bagian atas berbentuk salib yang di buat oleh kasau. Tiang bubungan dan purlin bubungan kemudian di ikat dengan rotan.

Atap Rumah Adat Tongkonan

Untuk mendapatkan atap yang semakin melengkung seperti yang di sukai orang Toraja, ujung – ujung tiang bubungan atas harus di lubangi di tengah – tengah tiang gantung pendek vertikal . Bagian atas dari tiang – tiang ini menopang balok pertama bersudut ke atas yang membentang di sepanjang bagian depan dan belakang rumah. Balok ini kemudian di masukkan melalui bagian tengah tiang gantung vertikal yang lebih pendek yang menopang balok kedua yang bersudut ke atas.

Tiang tersendiri berdiri di depan dan di belakang bagian tiang bubungan yang menonjol melewati purlin bubungan. Kasau atap yang menonjol di topang oleh pengikat melintang yang melewati tiang gantung dan tiang tegak. Batu – batu di letakkan di bawah tumpukan sebelum atap di pasang. Atapnya terbuat dari batang bambu terikat rotan yang di susun bertumpukan di sepanjang bangunan. Tiang – tiang bambu yang membentuk bagian bawah atap​​diikat ke kasau sepanjang panjangnya. Lantainya terbuat dari balok kayu tipis yang direkatkan di atas papan kayu .​

Masyarakat Toraja

Masyarakat Toraja sangat terstruktur, kelas atas terdiri dari bangsawan, kelas bawah terdiri dari orang – orang yang dulunya adalah budak, dan seterusnya. Dalam agama asli Toraja, Aluk To Dolo (berarti “Jalan Para Leluhur”), atap pelana dan panel dinding kayu di ukir dengan pola geometris dan spiral serta motif seperti kepala kerbau dan ayam jantan yang di cat dengan warna merah, putih, kuning, dan hitam. Warna-warna ini mewakili hari raya agama yang berbeda. Hitam melambangkan kematian dan kegelapan, kuning melambangkan anugerah dan kekuasaan Tuhan, putih melambangkan kesucian (karena tampak seperti daging dan tulang), dan merah melambangkan kehidupan.

Pigmen yang di gunakan mudah di temukan: jelaga di gunakan untuk warna hitam, kapur untuk warna putih, dan pewarna tanah untuk warna merah dan kuning. Tuak , atau tuak , di tambahkan untuk membuat warnanya lebih kuat. Dahulu kerbau adalah​​digunakan untuk membayar seniman yang mengecat rumah. Sebagian besar ukiran pada rumah dan lumbung Toraja di maksudkan untuk membawa keberuntungan dan kesuburan, dan menggunakan desain yang penting bagi keluarga pemiliknya.

Desain Rumah Adat Tongkonan

Banyak desain rumah dan lumbung Toraja yang sama dengan desain drum ketel tembaga klan Dong – Son. Banyak di antaranya, seperti pola salib persegi, di perkirakan berasal dari seni Hindu dan Buddha atau di salin dari kain dagang India. Sebagai tanda keimanannya , umat Kristen Toraja menggunakan salib sebagai elemen fesyennya. Terdapat kepala kerbau kayu yang diukir dengan tanduk asli di dinding depan rumah asal terpenting. Tanda ini tidak boleh dipasang di rumah sampai salah satu upacara kematian terpenting selesai.​​​

Suku Toraja Dan Filosofi Rumah Adat Tongkonan

Tongkonan lebih dari sekedar bangunan bagi masyarakat Toraja. Merupakan pusat kehidupan ritual dan tanda identitas keluarga serta adat istiadat, mewakili seluruh keturunan nenek moyang pendiri. Ini adalah mata rantai terpenting dalam jaringan ikatan keluarga. Suku Toraja mungkin kesulitan menyebutkan secara pasti hubungan mereka dengan jenis yang berjauhan, namun mereka selalu dapat menyebutkan rumah kelahiran orang tua, kakek-nenek, dan terkadang bahkan nenek moyang jauh mereka karena mereka percaya bahwa rumah-rumah tersebut menghubungkan mereka. Kalau bicara tentang Toraja , keturunan ditemukan melalui garis laki – laki dan perempuan. Jadi, setiap orang merupakan bagian dari lebih dari satu rumah. Untuk menjadi anggota rumah tersebut, seorang sanak saudara hanya perlu hadir pada saat upacara , pada saat pembagian rejeki , atau pada saat rumah dibangun kembali.

Bangsawan Toraja

Bagi masyarakat luar Toraja , tongkonan telah mewakili seluruh bangunan Toraja. Namun, hanya para bangsawan dan keturunan mereka yang mampu membangun rumah – rumah ini dan menghadiri pesta – pesta ritual besar yang menyertainya. Bangsawan Toraja dapat mengaku mempunyai hubungan kekerabatan dengan tongkonan tertentu apabila mereka berkerabat melalui garis keturunan laki – laki atau perempuan dengan nenek moyang aslinya. Kontribusi pada pesta seremonial yang diselenggarakan oleh rumah tangga tongkonan sering kali menjadi salah satu cara untuk membuktikan hubungan ini. Rakyat jelata biasanya tinggal di rumah yang lebih kecil dan sederhana dan membantu di pesta -pesta besar untuk semua orang. Rakyat jelata menemukan nenek moyang mereka dengan kembali ke rumah mereka sendiri. Meski tidak semewah itu, tongkonan tetap bisa disebut.​

Di Indonesia modern

Di Indonesia modern , rumah adat telah kehilangan daya tariknya bagi banyak orang Toraja karena bagian dalamnya terlalu kecil, gelap , dan berasap. Namun, hal ini masih memiliki banyak arti penting secara simbolis. Banyak orang memilih untuk membangun rumah beton satu lantai di atas tanah dengan gaya Pan – Indonesia modern, sementara yang lain memilih membangun rumah dari tumpukan kayu. Orang lain yang menyukai kebiasaan dapat menambahkan lantai tambahan dan atap pelana . Hal ini memberi pemiliknya lebih banyak ruang tamu dan ruang untuk perabotan sambil tetap menjaga prestise yang diberikan tongkonan kepada pemiliknya.​​

Rumah Toraja Modern

Jadi, rumah Toraja modern merupakan hasil perubahan arsitektur yang membuatnya kurang berguna sebagai rumah tinggal. Dengan menggunakan teknologi baru dengan cara ini, mereka semakin mendorong cara berpikir Toraja yang lama. Meskipun ada perubahan, rencana dasarnya tetap sama, dan partisipasi tongkonan dibentuk oleh betapa pentingnya ide – ide rencana tersebut. Tentang budaya, agama, dan masyarakat. Hal ini disebut sebagai “involusi ” karena garis perubahannya sangat dekat dengan ide – ide dasar ini. Meskipun tongkonan baru ini bersifat modern, tongkonan baru ini berhasil mempertahankan makna simbolisnya dan tetap memberikan dampak budaya yang mendalam.​​​​ 

Penutup: Filosofi Rumah Adat Tongkonan

Rumah Adat Tongkonan bukan sekadar bangunan, tetapi manifestasi filosofi dan kearifan lokal Suku Toraja yang sarat makna. Setiap sudutnya menyimpan cerita tentang nilai-nilai luhur seperti kebersamaan, kekeluargaan, dan penghormatan terhadap leluhur.

RELATED POSTS

View all

view all